SEJARAH DESA

Pada abad ke 14 Desa Ngaringan keadaanya masih hutan belukar. Tepat di dalam hutan tersebut terdapat jalan kecil (Bhs. Jawa : Selit). Selit maka dari jurusan barat ke timur yang sekarang menjadi Jalan Raya dari Purwodadi ke Blora. pada waktu dulu selit tesebut adalah batas kekuasaan antara Mataram dan Pesantenan (Pasi).  Pada Waktu itu Mataram dalam kekuasaan Panembahan Senopati. Sedangkan Pasantenan Adipati Joyokusumo. Tepat disebelah timur desa Ngaringan yalah dukuh Jetis Desa Ngarap-arap, pada waktu dulu ditempati oleh seorang Tumenggung beserta para wiromantri (prajurit).

Sedang Tumenggung yang berada disitu dengan nama Sambernyowo, sedang tempat itu disebut Gedangkuning. Adapun Wiromantri yang boleh disebut bau kanan dan bau kiri dari Tumenggung Sambernyowo adalah Prajurit I Wiropati dan yang ke II Mintar.

Sebelum pecah perang antara Mataram dan Pasantenan keadaan Gedangkuning tanteram, sehingga Wiropati dan Mintar dengan kata sepakat akan mencari tanah untuk pertanian. Setalah kata-kata sependapat maka Mintar mencari tanah pertanian ke Timur, sedangkan Wiropati ke Barat.

Lama kelaman Wiropati mengetahui tanah datar tetapi tidak seberapa luas, dalam perkiraan cukup sekedar untuk tanah pertanian. Setelah itu Wiropati membuat Pekuwon disebelah barat tanah datar tersebut. Selanjutnya tanah datar tersebut dibukak (dibabat) untuk tanah pertanian. Herannya Wiropati dimana tempat tidak ada tanah yang akar dipergunakan tanah sawah, hanya tanah kering (tegal). dengan sabda Wiropati (Jawa : Lemah-lemah kabeh tinemu lemah garingan) sehingga menjadi pekuwon dan tegalan tersebut Garingan, dengan sebutan itu menjdadi NGARINGAN. Sedangkan Wiropati berusaha tanah tegalan tersebut akan dijadikan swah tadahan (tadah hujan) maka Wiropati sengaja mencari sumber air yang akan dibuat saluran untuk mengoncori tanahnya.

Keberangkatan Wiropati dari rumah membawa tongkat (Jawa : teken) kayu Pudakpayung. Setelah perjalanannya sampai ke utara tanah tegalannya Wiropati mengerti bahwa didalam tanah itu ada sumber air, maka Wiropati segera tongkatnya dimasukan ke dalam tanah (Jawa : ditancepake), setelah dicabut tanah bekas tongkat tersebut keluar air tetapi sangat kecil sehingga tidak cukup untuk mengoncori tanahnya. Sumber tersebut karena berasal dari bekas tongkat kayu pudak, maka sumber itu diberi nama : Sumber Pudak.

Timbul perang antara Mataram dan Pesantenan, pertempuran yang besar terjadi ditempat tanah tegalannya Wiropati. sehingga tanah tersebut diberi nama oleh Wiropati Pamuk karena tempat amuk-amukan antara Mataram dan Pesantenan. Tanah tegalan tersebut selanjutnya jadi sawah tadahan (tadah hujan). Wiro tidak kembali terus bertempat tinggal di Garingan, oleh pengikut-pengikutnya dinamakan ki Ageng Ngaringan : dari Kata Ngaringan.